SBM Board, strategi bedah bisnis secara holistik.

Ada yang menarik untuk dibagikan tentang SBM ini, saya mengenalnya ketika tahun 2016 dari salah seorang teman yang baru saja mengikuti workshopnya. Workshop yang membedah sekelumit persoalan yang terjadi dalam dunia bisnis terutama UMKM. Lalu bagaimana strategi Smart Business Mapping yang telah dikembangkan oleh pak Budi Isman ini dapat membedah dan menganalisa apa saja problem bisnis yang perlu dibenahi?

Secara garis besar SBM ini dibagi menjadi beberapa bagian pemetaan persoalan, Playing Field, Market Landscape dan Operasional Profitability.

PLAYING FIELD

1. What is the problem your business is trying to solve? 

disini kita mencoba mencari inti dari business tersebut dan melihat sebetulnya apakah mereka memberikan solusi terhadap persoalan konsumen mereka? Karena pada dasarnya “Needs” dari konsumen hanya akan tercipta (ada) kalau ada persoalan yang ingin mereka selesaikan. Contoh sederhana adalah persoalan “lapar” yang ada di konsumen maka akan timbul business “makanan”

2. Who has the problem?

Ini berkaitan dengan pertanyaan no 1. Karena kita harus jelas tahu siapa sebenarnya yang punya problem tersebut. Kalau dalam bahasa teorinya mungkin disini kita mencoba melihat “Target Market” atau “market segment” yang ingin kita berikan solusi dengan business kita. Kalau dengan contoh persoalan “lapar” di atas tanpa kita dengan jelas tahu siapa yang lapar tersebut, kemungkinan besar kita mencoba memberikan solusi makan untuk semua orang. Namun kalau kita fokus ke target market anak-anak, misalnya, maka mungkin solusi yang kita berikan adalah makanan yang khusus di design untuk anak-anak.

3. What is the solution? 

Banyak para pengusaha yang mulai business nya dengan membuat produk atau jasa, kemudian baru mencari pasarnya. Dalam kaitannya ini, kita melihat dulu problem dan keperluan dari target market kita, baru di coba memberikan solusinya.

4. How Big is the Market? 

Kalau pertanyaan 1-3 sudah bisa dilihat maka saya biasanya akan melihat seberapa besar pasar dari business tersebut, dengan solusi yang di berikan untuk target market yang sudah di identifikasi. Buat apa business yang potensi marketnya kecil dan tidak punya kemungkinan untuk berkembang di masa yanaga kan datang?

5. What Factors will impact the business? 

pertanyaan no 5 ini yang termasuk paling sering di abaikan oleh pengusaha, apa lagi usaha yang masih kecil. Padahal ada banyak faktor yang mungkin sulit anda kontrol (external factor) yang sangat mempengaruhi business anda. Apa saja yang penting kita pantau dan kelola? Ada faktor Pemerintah dengan kebijakan dan regulasi, faktor kompetitor/pesaing , faktor Tokoh masyarakat/LSM, Supplier , Teknologi yang berubah dan perubahan perilaku konsumen. 

Faktor-faktor ini harus kita jaga dan pantau karena semuanya ini bisa memberikan dampak yang negatif dan juga bisa menjadi positif terhadap business kita.

MARKET LANDSCAPE

6. Why do people choose you? 

ini adalah pertanyaan yang mencoba melihat apa yang menjadi alasan konsumen untuk memelih produk atau jasa anda? Apa bedanya dengan yang lain? Nilai apa yang di berikan ke konsumen sehingga mereka menjadi tertarik? Penetapan harga anda bagaimana?

7. How do you sell your products? 

Konsumen sekarang, dengan banyak pilihan produk dan jasa, secara umum akan lebih memilih produk yang memang memberikan solusi untuk mereka dan mudah untuk mendapatkannya. Bagaimana caranya selama ini kita memasarkan produk kita. Sistem distribusi kita bagaimana? Apakah offline saja atau ada juga online distribution? Apakah kita memakai mediator atau melakukan direct selling? Business model anda juga menentukan sukses atau tidaknya usaha anda.

8. How do you keep your customer?  

business yang mempunyai customer yang loyal biasanya akan lebih lama bertahan dan maju. Konsumen yang sudah mencoba produk anda dan tanpa adanya cara untuk tetap melakukan “engagement” dengan mereka maka bisa jadi mereka akan berpindah ke hati yang lain. Karena kompetitor tidak akan diam saja.

OPERATIONAL PROFITABILITY

9. How do you increase your revenue? 

Business tanpa cash flow akan mati. Cash flow yang baik hanya di dapat kalau ada penghasilan/revenue. Jadi melihat dari mana saja Revenue sebuah usaha akan sangat penting. Apakah revenue mereka tergantung kepada satau atau dua produk saja? Apakah ada income lain yang bisa memberikan tambahan? Bagaimana selama ini pertumbahan pendapatan mereka? Apakah dari penambahan konsumen saja atau ada juga dari penambahan pembelian dari setiap konsumen yang sudah ada? Banyak faktor lainnya yang harus kita lihat.

10. How do you manage your cost? Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini maka perhatian kita terhadap pengelolaan biaya sangat penting. Karena secara sederhana keuntungan hanya dapat kalau Pendapatan lebih besar dari biaya? Kalau kita tidak bisa naikan pendapatan, logikanya kontrol biaya? Cek satu persatu item biaya yang paling besar…biasanya ada di biaya HPP dan Overhead cost. Kalau anda investasi terlalu agresif maka resiko dalam cash flow dan sekaligus kenaikan biaya.

11. What is your Core Resources? 

Setiap business pasti mempunyai “Core resources” yang harus di kelola dengan baik. Karena “Core resources” ini kalau tidak ada, maka perusahaan akan mati. Perusahaan konsultan dan jasa biasanya “core resources” mereka adalah SDM mereka. Perusahan Kopi Kapal Api “core resources” mereka adalah Kopi.

12. How do you develop your team? 

Saya adalah orang yang paling ngotot mencoba melihat masalah SDM dan team manajemen sebuah business. Karena ujung-ujungnya, saya selalu mengatakan “we are in people business”. Tanpa SDM yang berkwalitas baik, punya budaya yang baik niscaya sebuah usaha akan mengalami kesulitan. Dana bisa di cari, teknologi dan mesin bisa di beli. Namun mengembangkan SDM akan membutuhkan waktu.

Melihat 3 Faktor utama Playing Field, Market Landscape, Operational Profitability dengan 12 pertanyaan dasar, maka biasanya kita akan mendapatkan semacam Snapshot (Foto) dari kesehatan sebuah usaha. Dari sini kalau kita ingin melihat lebih dalam dengan data dan fakta yang ada akan lebih baik. Minimal dengan ini kita sudah mendapatkan titik fokus persoalan maupun area yang perlu di perbaiki.

Jakarta 1 Juli 2017

Budi Isman
CEO Mikroinvestindo/Founder Smartplus Accelerator
Founder OIM proindonesia

Leave a Reply